Living in a country, especially in Indonesia, where the majority of people want to live a normal life and afraid to be different is really difficult. It's just like, DIFFERENT = DIFFICULT. Those words seems related for me -and maybe other people-.
I already through a lot of time where I had to conceal my identity. Aku sering banget menyembunyikan jati diriku, apa yang kusuka, apa yang gamau aku lakuin, hanya untuk memenuhi tuntutan masyarakat. Masyarakat yang aku lihat disini, terlalu terbiasa dengan menjadi mayoritas (tapi yang aku maksud bukan hanya agama). Mereka gamau ngerasain menjadi minoritas atau pun orang yang berbeda pendapat dari biasanya. Mereka gamau mencoba menghargai pendapat orang yang berbeda tersebut. Mereka selalu menganggap orang yang berbeda lebih baik untuk dihiraukan. That's what I feel.
Aku tipe orang yang berbeda dengan masyarakat dalam banyak hal. I think I am different in lot of things such as food taste, fashion item, thought, etc. Misal makanan nih ya, when society really like food such as pizza / spaghetti, I didn't. I neither love mixed western food nor some traditional food (because I like traditional food more than beside one). My food taste is tasteless. I mean, if bread should be mixed with jam or something sweet than with vegetable / fruit / meat, because I think that's disgusting dan ga cocok aja gitu. Tapi orang-orang di sekitarku mengatakan bahwa aku ribet dan pilih-pilih makanan. I mean, what's wrong with choosing your own food right? Juga nih, aku ga suka pake jeans kalo keluar rumah, karena aku ngerasa 'mirip' telanjang, tapi aku dikatain fashionless, nyusahin diri sendiri, sok alim, blablabla lah. Akhirnya, aku harus ngikutin apa yang mereka mau itu.
Saat aku nulis ini, di Indonesia lagi booming kasus Joshua Suherman yang dianggap menista agama dengan joke nya. Dia mengatakan kalau Cheryl -mantan anggota Cherrybelle- kalah tenar dengan Annisa -dulunya juga Cherrybelle- karena si Annisa ini termasuk golongan mayoritas. Reaksi orang Indo terhadap yang Joshua katakan ini emang beda-beda. Ada yang anggap menista, ada yang anggap nggak. Aku juga udah liat some reaction videos about that from some Youtube Creators such as Gitasav, or Deddy Corbuzier. Awalnya aku ga menemukan letak permasalahan dari video itu, I mean, lebih ke ngga ngerti maksud videonya. Is it a joke? Is it just him sharing an experience? What I know is maybe Annisa might be a little hurt, dan aku ga bakal suka kalo ada di sisinya. Lalu aku nemu video reaksi dari Gitasav, dan aku nemu conclusion dari maksud Jo bikin video itu. Kak Gita ini menilai bahwa sebenarnya si Jo ini nggak berniat menista, tapi hanya menyampaikan keresahan yang dia rasakan sebagai minoritas di negara ini. Lalu aku pikir, sepertinya Joshua ini emang menjadikan hal-hal yang dia lihat di kehidupannya as a minority sebagai candaannya. Eventho Jo udah tahu resiko yang bakal dia dapat sebelum menyampaikan pendapatnya dalam jokenya itu. Ini yang aku lihat, DIFFERENT = DIFFICULT.
Tapi bukan ini yang bener-bener mau aku sampaikan di tulisan kali ini. Hanya ini yang ingin aku ungkapin, hal-hal yang selama ini aku pertanyakan. Apakah kita harus mengikuti apa yang masyarakat inginkan? Apakah kita harus membuat diri kita sesuai standar tidak tertulis yang ada di society?
Aku cuma ingin, orang Indo berani buat menjadi diri mereka sendiri, berani mengungkapkan pendapatnya, ga takut pendapat orang lain tetapi tetap menerima masukan yang positif dari mereka, ga bakal menghujat orang yang seleranya beda banget dari masyarakat (like me:)), so diversity will ever exist here.
Aku masih belajar sampai saat ini. Belajar untuk menghargai diriku sendiri, mencintai diriku sendiri, berani menyampaikan pendapatku yang mostly really weird and unpredictable, berani menjaga toleransi tetapi tetap berpegang teguh pada agamaku, dan belajar menunjukkan diriku yang sebenarnya,
