Kandang Monyet

By alya weirdo - Mei 18, 2025

Buka sosial media akhir-akhir ini ngga senyaman beberapa tahun ke belakang. 

Sebagai pengguna lama twitter-yang sekarang disebut sebagai x, asbun-asbun selebtwit ngga muncul sebanyak dulu. Twitter berubah jadi tempat bahas politik, dan sering kali ada di perspektif oposisi. Diskursus politik memang ga salah, tapi bisa bias. Saat ini twitter jadi basis terbesar kubu pemilih Anies-Imin di pilpres Februari tahun lalu, disusul dengan pemilih Ganjar-Mahfud di posisi kedua. Pendukung pasangan nomor 02 sepertinya minim dan enggan memunculkan diri, karena sering diserang T_T. 

Well, sebagai pemilih oposisi, pencalonan pasangan nomor 02 ga bisa dibenarkan sih. Dimulai dari menabrak konstitusi dengan mengubah umur calon wakil presiden menggunakan privilese PAMAN di Mahkamah Konstitusi. Belum lagi sejarah kelam Presiden kita yang sepertinya, dilupakan mayoritas rakyat Indonesia saat ini. Visi misi masih bisa diperdebatkan sih, karena pasti ada kerja tim di dalamnya. Tetap saja visi misi mereka nggak sematang visi misi calon lain.

Sayangnya masalah tersebut sekarang sudah nggak relevan. pasangan nomor 02 sudah terpilih jadi presiden dan wakil presiden kita. Kadang aku mikir, apa sih yang bisa kita lakukan? Kayanya sih, the only way is to monitor visi misi mereka, kritisi terus, tagih janji mereka. Pengin sih rasanya, ngingetin sesama rakyat kalo kita tuh atasan mereka. Pajak kita yang bayar mereka. Mereka tuh dipilih dan harusnya kerja untuk rakyat. Fakta di lapangan adalah pihak oposisi lah yang terus mengawasi pemerintahan, pendukung mereka cenderung tak peduli. Pemilu kemarin serasa kontestasi untuk memenangkan idola. Begitu idola yang didukung menang, terpenuhilah nafsu, dan politik terasa seperti isu belaka. Politik dirasa seperti hal yang tidak berpengaruh ke kehidupan sehari-hari. Cuek banget bokkkk pemilihnya. Begitu ada kebijakan ngawur dan perlu dikritisi, dibalas dengan 'Anak Abah'. AAAKKKK KESEL BANGET! Nggak semua oposisi pemilih Anies-Imin ya!

Twitter masih jadi platform favorit untuk diskursus politik itu. Algoritma twitter yang tidak eksklusif memungkinkan diskursus politik untuk lewat di timeline orang-orang yang bahkan muak dengan pembahasan politik. Sebuah penelitian memang menemukan bahwa pengguna Twitter di Indonesia cenderung lebih terdidik daripada pengguna platform mainstream lainnya. Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena kecenderungan pengguna untuk membaca, dan tidak hanya mengkonsumsi short-content yang mengurangi ketahanan atensi. Penyebaran hoax juga berkurang ketika pengguna masih mau membaca dan melakukan cross-check. Lalu apakah itu berarti pemilih oposisi yang masif di Twitter lebih terdidik daripada pemilih presiden dan wakil presiden terpilih sekarang yang masif di platform sebelah? Entah.. Ridwan Kamil mengatakan bahwa “Pemilih pak Pr*b*w* itu ada kelompok Pendidikan menengah kebawah," dalam salah satu podcast. Semua orang berhak menarik kesimpulan. Tapi apakah pengguna Twitter berhak merasa lebih baik? Aku rasa enggak.

Banyak pengguna twitter merasa platform yang mereka pakai sebagai platform orang pintar dan terdidik. Mereka sebut Tiktok sebagai 'Kandang Monyet'. Aku kesel banget sama sebutan ini, kaya ada rasa superior dari orang yang menggunakannya. Penggunaan monyet yang disandingkan untuk menggambarkan manusia juga kasar sih, menurutku. Penggunaan sebutan itu kayanya cuma bikin ribut dan ga akan bikin jembatan dengan pemilih presiden dan wapres sekarang. Kebutuhan akan rakyat yang kritis kayanya bakal susah dicapai kalau selalu ada rasa superior antar pemilih. Diskursus politik yang sehat di Twitter jadi kaya tempat sabung ayam, ribut mulu. 

Ngga kalah dengan Twitter, pengguna platform Tiktok juga ngatain balik. Ada yang menggunakan istilah yang sama yaitu 'Kandang Monyet', ada yang menggunakan istilah 'Anak Abah', atau 'Sok Pinter'. Aku kasihan sih sama istilah Anak Abah. Sebutan yang digunakan oleh sesama pendukung Anies yang merasakan kehangatan dari Anies sebagai seorang bapak, malah digunakan untuk mengolok oleh pendukung sebelah. Penggunaan istilah 'Sok Pinter' juga secara tidak eksplisit menyebut SEMUA PENGGUNA Twitter itu sok dan aslinya ngga pinter. Penggunaan sebutan-sebutan ini jadi ngingetin sama penggunaan 'Cebong Kampret' di awal-awal aku terpapar politik beberapa tahun ke belakang. Ada manfaatnya? Jelas enggak. 

Indonesia belum siap buat diskursus sehat. Capek bok. Aku yang lagi ada di fase young adult dan mau belajar ini jadi bingung, di mana bisa belajar tentang politik dengan tenang? Di mana bisa main sosmed dengan fun? Platform yang sebenernya bisa balance, jadi full of toxic discourse. I knew some intellectuals that I looked up to, bahkan mundur dari Twitter karena lelah. Sementara di platform sebelah discourse politik sangat minim dan bias. Kolom komentar salah satu paslon penuh dengan hujatan. Bahkan hujatan udah masuk ke ranah pribadi dan keluarga. Rasisme ngga perlu diragukan lagi, sudah pasti ada, padahal sama-sama orang Indonesia. God, help Indonesian to be a better and wise society, please..

  • Share:

You Might Also Like

0 comments